Untuk bumi yang lestari

Kabar Baru| 20 Februari 2025

Tikus Bisa Mencegah Perdagangan Satwa Liar

Sistem indera tikus yang peka dapat mendeteksi keberadaan satwa liar dengan mudah

Tikus ponggol raksasa Afrika (foto: APOPO)

MUNGKIN Anda menganggap tikus sebagai hewan yang kotor dan menjijikan, hama, dan harus dimusnahkan. Terlepas dari persepsi negatif soal tikus, ia memiliki sisi lain yang mungkin tak pernah kita lihat. Tikus dapat menjadi "pahlawan" memerangi perdagangan satwa liar.

Tikus ponggol raksasa Afrika (Cricetomys ansorgei) adalah tikus terpanjang di dunia. Ia memiliki kecerdasan tinggi dan indera penciuman tajam. Kemampuan itu membuat sekelompok ilmuwan di Tanzania berencana menggunakan tikus tersebut untuk mendeteksi bagian tubuh satwa liar yang diperdagangkan secara ilegal.

Konstruksi Kayu

Sebenarnya, ide ini bukan ide baru. Melainkan sudah muncul sejak 1990-an. Bart Weetjens, seorang insinyur, mencari teknologi mendeteksi ranjau darat. Namun, alih-alih menggunakan teknologi yang mahal, ia menggunakan tikus yang punya kecerdasan dan indera super.

Weetjens mendirikan APOPO, organisasi nirlaba yang melatih tikus mendeteksi sesuatu. Generasi tikus raksasa ini telah berhasil dilatih mendeteksi ranjau darat dan tuberkulosis.

Untuk melatihnya, Weetjens dan timnya mengembangbiakkan tikus-tikus di penangkaran. Tikus-tikus tersebut dilatih pada usia yang sangat muda. Tikus yang gagal menjalin ikatan dengan pelatih atau tidak terlihat bersemangat akan gugur. Hanya tikus yang merespons dengan baik dan punya ikatan baik dengan pelatihnya yang lolos.

Mereka yang lolos akan diajari mengenali aroma benda-benda yang akan jadi target. Seperti sisik trenggiling, cula badak, kulit harimau, hingga gading gajah. Mereka juga diajarkan membedakannya dengan bau-bau lain. Bahkan dilatih agar bisa mendeteksi aroma barang tertentu walaupun tertutupi oleh bau yang menyengat. 

Selain mendeteksi, tikus-tikus itu juga dilatih mengkomunikasikan temuan mereka. Setiap tikus mengenakan tali pengaman yang dilengkapi bola di dada mereka. Ketika mereka mendeteksi target, para tikus akan menarik bola dan memicu suara yang memberi sinyal ke pelatih mereka.

Di tahap pertama, hasilnya menjanjikan. Hasil dari percobaan ini telah dipublikasikan di Frontiers in Conservation Science. Tikus raksasa dapat dilatih untuk mendeteksi satwa liar yang biasa diperdagangkan dalam lingkungan laboratorium yang terkendali.

Kemampuan deteksi tikus raksasa mendekati 90%. Kini, tikus-tikus tersebut telah dilatih selama dua tahun dan akan dicoba dikerahkan di lapangan. Para peneliti masih mengembangkan metode latihan agar bisa menembus akurasi di atas 90%.

Perdagangan satwa liar sendiri masih terus terjadi dengan nilai Rp 320 triliun per tahun, menurut World Wildlife Crime Report. Penggunaan tikus raksasa untuk mendeteksi satwa liar bisa muncul sebagai solusi yang terduga. Apalagi, melatih tikus raksasa akan jauh lebih murah dibanding mengembangkan teknologi baru dari nol.

Ikuti percakapan tentang perdagangan satwa di tautan ini

BERSAMA MELESTARIKAN BUMI

Ketika informasi makin marak, peristiwa-peristiwa tak lagi berjarak, jurnalisme kian penting untuk memberikan perspektif dan mendudukkan soal-soal. Forest Digest memproduksi berita dan analisis untuk memberikan perspektif di balik berita-berita tentang hutan dan lingkungan secara umum.

Redaksi bekerja secara voluntari karena sebagian besar adalah mahasiswa dan alumni Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University yang bekerja di banyak profesi. Dengan visi "untuk bumi yang lestari" kami ingin mendorong pengelolaan hutan dan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Dukung kami mewujudkan visi dan misi itu dengan berdonasi atau berlangganan melalui deposit Rp 50.000.




Alumnus Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB

Topik :

Bagikan

Terpopuler

Komentar



Artikel Lain